Entah mengapa malam ini teringat sama mantan. Mulai dari mantan yang pacaran hanya sekedar status, hinggah menjadi harapan untuk masa depan. Awalnya tidak ingin memiliki gelar "pernah pacaran" ingin menjadi seorang yang memiliki prinsip " pacar pertama ku adalah suamiku". Seakan sangat keren menyandang gelar "tak pernah pacaran". Namun akhirnya gelar tersebut tidak didapat.
Pernah pacaran beberapa kali membuat saya sedikit mengerti dan tahu ketika dimanjakan oleh kata-kata manis, menjadi penyemangat dalam beberapa hal, teman berbagi suka dan duka (walaupun terkadang menjadi luka ketika berpisah), menjadi kakak yang selalu menasihati dan terkadang menjadi panutan. Melihat kebelakang ternyata sedikit lucu. Mulai dari yang hanya sehari bahkan ada yang sampai setahun. Semua dengan ceritanya masing-masing.
Namun sedikit berbeda, jika biasanya muda mudi yang berpacaran dengan jalan bersama, sedikit berbeda dengan saya yang hanya melalui komunikasi.
Jika melihat kisah saya dan realita sekarang, sedikit membuat saya takut. kenapa? gaya berpacaran sekarang melebihi kemesraan sepasang suami istri. Bukan bermaksud untuk menjadi yang paling benar lalu menggurui. Tidak, tapi saya hanya sedikit tersentak kaget. Nuansa seperti itu mungkin sudah ada sejak dahulu kalah, hanya saja menurut saya sekarang lebih parah ketimbang zaman sebelumnya.
Kembali lagi kecerita kenangan saya. Saya adalah seorang dengan tipe yang ingin selalu diperhatikan lebih. Namun beberapa kali menjalin hubungan membuat saya tersadar. Semua orang memang ingin diperhatikan lebih, tapi bukan berarti hanya saya yang mendapat kan perhatian itu hinggah mereka mengorbankan yang lain. 2 kali menjalin hubungan dengan seorang yang telah memiliki pekerjaan memberikan saya pelajaran yang berarti. Mungkin selama ini saya begitu egois karena ingin selalu diperhatikan, ingin selalu ada kapan pun saya mau. Dan mungkin disitulah letak kesalahan saya, hinggah kata berpisah menjadi pilihan. Mereka juga memiliki pekerjaan lain, bukan hanya memiliki waktu untuk tongkrongin handphone untuk membalas setiap pesan, menjawab telepon. Namun mereka punya tanggung jawab lain.
Dulu, terkadang akan ada air mata yang mengiringi setiap mengenang lelaki-lelaki yang pernah singgah berlabuh didermaga hati. Namun harus kah seperti itu? Tak akan ada asap jika tak ada api. Intropeksi diri akan lebih baik, agar kedepannya tidak terjadi kesalahan yang sama.
"Mantan itu bukan musuh tapi Kawan, kenapa harus dimusuhi?"
No comments:
Post a Comment